Serang – Pertumbuhan berbagai sektor yang menggunakan energi fosil bumi maupun EBT (enegri baru terbarukan) membuat pemerintah harus bisa memaksimalkan potensi alam yang ada. Bukan tidak mungkin, kekurangan energi fosil di Indonesia apabila tidak ditutupi akan mengganggu laju ekonomi negara ini. Berdasarkan data Kementerian ESDM, ada beberapa sektor yang sudah dipredikdi laju perkembangannya. Berikut penjelasannya.

1. Sektor Industri

Gas bumi dan batubara masih menjadi sumber energi utama di sektor industri hingga tahun 2050. Gas bumi paling banyak digunakan untuk memenuhi permintaan industri logam, pupuk (sebagai bahan baku) dan keramik. Ketiga industri tersebut mengkonsumsi sekitar 83% gas bumi dari total permintaan gas bumi di sektor industri. Sedangkan batubara sebagian besar (90%) dikonsumsi oleh industri semen.

EBT terutama dimanfaatkan untuk industri makanan dan kertas. Beberapa industri makanan masih menggunakan biomasa sebagai bahan bakar, sementara industri kertas menggunakan energi terbarukan seperti cangkang kelapa sawit, jerami padi, biogas dan black liquor (lindi hitam) sebagai pengganti batubara. Tren permintaan EBT pada industri makanan akan turun sejalan dengan berkurangnya pemanfaatan biomasa, namun trennya diproyeksikan meningkat pada industri kertas.

Pada tahun 2050 permintaan energi di sektor industri akan mencapai 230,9 MTOE (BaU), 194,3 MTOE (PB) dan 157,7 MTOE (RK).

Terdapat 6 (enam) sub sektor industri yang lahap mengkonsumsi energi yaitu industri semen, logam, makanan dan minuman, pupuk, keramik serta kertas. Total permintaan energi pada ke enam industri ini akan mencapai 87% dari total pemakaian energi di sektor industri.

2. Sektor Transportasi

Bensin, solar, gas, avtur, avgas, biodiesel dan bioetanol serta listrik merupakan jenis energi yang dikonsumsi pada sektor transportasi. Pada tahun 2018, permintaan energi terbanyak di sektor transportasi adalah BBM (96%) dan sisanya dipasok oleh biodiesel dan gas bumi. Untuk mengurangi pemakaian BBM pada sektor transportasi yang sebagian besar pasokannya diperoleh melalui impor, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan substitusi BBM dengan BBN melalui penerapan mandatori BBN, namun realisasinya saat ini baru dapat diterapkan untuk B-20 (pencampuran biodiesel sebesar 20% dalam solar).

Kebijakan lain di sektor transportasi adalah substitusi BBM dengan gas bumi dan listrik, namun penerapannya belum berjalan seperti yang diharapkan. Dengan demikian, pada skenario BaU dan skenario PB pangsa permintaan minyak sampai tahun 2050 masih tinggi. Namun pada skenario RK pangsa permintaan minyak di tahun 2050 akan menurun akibat diterapkannya pencampuran biodiesel sebesar 100% (green diesel) dan bioetanol sebesar 85%. Dengan demikian, pangsa permintaan minyak pada skenario RK pada tahun 2050 akan menjadi 37% dan pangsa permintaan EBT meningkat menjadi 62%.

Penggunaan mobil listrik pada ketiga skenario ini belum terlalu berpengaruh terhadap permintaan listrik, hal ini terjadi karena jumlah kendaraan listrik yang diasumsikan sangat kecil dibandingkan kendaraan konvensional.

Pada tahun 2018, pangsa permintaan energi terbesar di sektor transportasi adalah sepeda motor (41%), hal ini dipengaruhi oleh jumlah sepeda motor sudah mencapai lebih dari 118 juta unit. Pada tahun 2050 diproyeksikan perbandingan jumlah motor di setiap rumah tangga trendnya hampir sama dengan trend saat ini yaitu setiap 1 rumah tangga mempunyai 2 motor, sehingga pangsa permintaan energi untuk sepeda motor menurun sejalan dengan beralihnya penumpang ke transportasi masal (MRT, LRT, KRL). Secara absolut terdapat penambahan konsumsi energi angkutan masal dari 11,5 MTOE di 2025 menjadi 41,3 MTOE pada 2050 (BaU); 11,1 MTOE di 2025 menjadi 41,0 MTOE pada 2050 (PB); dan 11,0 MTOE di 2025 menjadi 47,2 MTOE pada 2050 (RK). Walaupun demikian, jumlah sepeda motor masih cukup tinggi karena masih menjadi andalan sebagai sarana transportasi terutama di kotakota besar dengan pertimbangan waktu tempuh lebih cepat dibanding kendaraan lainnya.

Pada semua skenario permintaan energi untuk angkutan udara mengalami pertumbuhan tertinggi sepanjang periode proyeksi dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6%, sehingga permintaan avtur naik dari 4,5 MTOE pada tahun 2018 menjadi sekitar 27,6 MTOE di 2050. Kondisi ini didorong oleh naiknya tingkat kesejahteraan masyarakat dan pesatnya pertumbuhan di sektor wisata yang mendorong masyarakat untuk berpergian.

Sementara itu, permintaan energi untuk kendaraan truk sepanjang periode proyeksi masih mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 5% untuk semua skenario sehingga pangsa permintaan energinya masih cukup besar hingga tahun 2050 yaitu sekitar 43%, terbesar diantara jenis kendaraan lainnya. Tren ekonomi digital dan meningkatnya aktivitas transaksi online (e-commerce) menjadi pendorong kenaikan permintaan energi pada truk mengingat lalu lintas distribusi barang umumnya menggunakan truk.

Untuk moda transportasi mobil penumpang, walau terdapat tren kenaikan permintaan energi, namun pertumbuhannya mampu diredam oleh pemanfaatan teknologi yang lebih hemat sehingga permintaan energi pada tahun 2050 naik dari 6,7 MTOE tahun 2018 menjadi menjadi 23,7 MTOE pada skenario BaU dan 21,1 MTOE pada skenario PB serta 20,9 MTOE pada skenario RK.

3. Sektor Rumah Tangga

Permintaan energi sektor rumah tangga terutama dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah rumah tangga yang mencapai 70,6 juta pada tahun 2025 dan sekitar 80 juta pada tahun 2050. Selain itu, tingkat urbanisasi juga mendorong naiknya permintaan energi ke depan. Berdasarkan proyeksi BPS, tingkat urbanisasi pada tahun 2035 akan mencapai 67% naik dari tahun 2010 yang hanya 49,8%.

Permintaan energi di sektor rumah tangga pada tahun 2050 akan mencapai 120 MTOE (BaU), 109 MTOE (PB) dan 94,7 MTOE (RK). Jenis energi yang dominan digunakan di sektor rumah tangga pada tahun 2050 adalah listrik. Pangsa permintaan listrik naik dari 60% pada tahun 2018 menjadi 90% pada tahun 2050. Naiknya permintaan listrik didorong oleh meningkatnya penggunaan alatalat elektronik di rumah tangga seperti AC, refrigrator (kulkas), mesin pompa air, termasuk kompor listrik induksi. Sementara permintaan LPG pada skenario BaU, PB dan RK pada tahun 2050 akan mencapai 4,8 MTOE, 4,3 MTOE dan 3,4 MTOE dengan adanya program substitusi LPG ke jargas, kompor listrik induksi dan DME.

Program pembangunan jargas untuk rumah tangga sesuai dengan RUEN akan mencapai 4,7 juta SR sehingga digunakan sebagai acuan dalam proyeksi permintaan gas bumi. Untuk mencapai target pembangunan jargas dalam RUEN pada tahun 2025, maka diperlukan pembangunan jargas sekitar 1 juta SR per tahun. Pada skenario BaU diasumsikan sesuai RUEN, pada skenario PB pertumbuhannya sebesar 1 juta SR/tahun dan skenario RK pertumbuhannya lebih dari 1 juta/tahun. Berdasarkan hasil proyeksi, permintaan gas bumi pada skenario BaU, PB dan RK pada tahun 2050 akan mencapai masing-masing 2,2 MTOE, 3,4 MTOE dan 4,5 MTOE.

Substitusi minyak tanah ke LPG juga masih dimasukkan sebagai asumsi dalam outlook ini yang diproyeksikan akan selesai pada tahun 2022.

4. Sektor Komersial

Permintaan energi di sektor komersial terdiri dari perkantoran, perhotelan, restoran, rumah sakit dan jasa lainnya. Energi yang dipergunakan di sektor komersial antara lain listrik, LPG, solar, gas, biodiesel dan DME. Permintaan energi di sektor komersial didominasi oleh listrik sekitar 60%-70%. Pemakaian listrik pada sektor komersial terutama digunakan untuk pendingin ruangan (AC), mesin pompa air dan penerangan (lampu).

Selain itu, permintaan LPG pangsanya cukup besar yaitu sekitar 22% dari total permintaan energi di sektor komersial. LPG di sektor komersial digunakan untuk memasak terutama di hotel dan restoran.

Pada tahun 2050, permintaan solar dan biodiesel pada sektor komersial yang pangsanya masing-masing sekitar 5% dan 2% digunakan untuk keperluan genset sebagai cadangan (back up) pasokan listrik.

Total permintaan energi final di sektor komersial pada tahun 2050 sebesar 47,7 MTOE (BaU), 40,5 MTOE (PB), dan 36,2 MTOE (RK).

Permintaan energi sektor komersial di semua skenario menunjukkan tren yang sama. Hampir 50% permintaan energi dikonsumsi oleh sub sektor perdagangan serta hotel-restoran. Sedangkan 50% sisanya dikonsumsi oleh sub sektor jasa sosial, jasa komunikasi, jasa keuangan dan perkantoran.

5. Sektor Lainnya

Sektor lainnya terdiri dari tiga sub sektor, yaitu pertanian, pertambangan dan konstruksi. Permintaan energi di sektor lainnya meliputi batubara, solar, biodiesel dan listrik. Batubara digunakan di sub sektor pertambangan, sementara solar dan biodiesel digunakan untuk genset sebagai cadangan pasokan listrik. Sedangkan listrik digunakan terutama untuk penerangan dan alat-alat elektronik lainnya.

Pangsa permintaan energi sektor pertambangan akan menurun dari 43% pada tahun 2018 menjadi sekitar 27% pada tahun 2050 salah satunya dipengaruhi oleh terbatasnya cadangan batubara dan mineral. Namun pangsa permintaan energi di sektor konstruksi justru akan naik dari 26% pada tahun 2018 menjadi sekitar 42% tahun 2050 dipengaruhi oleh meningkatnya populasi dan pertumbuhan ekonomi. Total permintaan energi final di sektor lainnya pada tahun 2050 sebesar 3,9 MTOE (BaU), 4,3 MTOE (PB), dan 4,6 MTOE (RK). (FN)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *